Pra sangkah

Rasio terasa bodoh ketika Peerasaan yang tulus mengusai diri.

Akal seakan ta’ berarti oleh rasa kepada makhluk ciptaanmu.

Hati merasa gelisah tak tentu arah karna dugaan rasa.

Terkadang, dugaan yang nampak dalam imajinasiku bahwa dia akan pergi dan menghilang dari genggaman.

Semua tentang dia, dia yang diyakini, dia pula pengharapan.

Tuhan,, ijinkan diri yang hina ini mengutarakan arah hidup padanya.

Hamba tidak mengharapkan akan abadi di sampingnya, namun diri menginginkan ia hidup serta tetap tersenyum, walaupun berat hati menerima pilihannya.

Pra duga kepada dambaan hati, pra sangka kepada diri yang ikhlas menaruh harapan.

Sewalaupun ia bukan makhluk utusan mu, tapi diri cukup yakin bahwa ialah pilihan diri ini

Entah itu kegilaan, ataukah hidupku telah di kendalikan oleh pengharapanku tentang rasaku yang ku anggap suci padanya.

P

Nyanyian serta tarian para penguasa dalam negeri

Bumi persada, negeriku tercinta. Pagi, pagi sekali ku terbangun dari tempat tidurku

Terbaring lemah ku pada kasur tatkala aku bagaikan mayat hidup. Tiba-tiba di pagi hari telinga mendengar keributan yang tidak jelas arahnya, dan pada hari itu akupun melihat pesta pas di hari mengingat hari maulid nabi dan ternyata para politikus ber pesta atas kebangkitan partainya.

Pertanyaannya, apakah ini negara yang tertib tata kehidupan masyarakatnya adil serta berpancasila dan ternyata jawaban atas kegelisahanku adalah negeriku dalam keadaan berduka atas tindakan para penjilat dalam negeri, perampas HAM rakyat yang tak dapat berkutip pada sistem keperintahan.

Sungguh miris negeri yang di tempati dan neraka jahanam di alami oleh diri yang tak mampu ini.

Kokohkan bahumu demi tercapai mimpi kita bersama minpi ibu pertiwi.

Negara merindukan sosok pejuang sejati yang tidak meminta imbalan atas perjuangan dalam merai kemerdekaan seperti sumpah janji ibu pertiwi.

Epistemologi Dalam Bingkai Hegemoni Demokrasi Liberal

A. EPISTEMOLOGI


Epistemologi merupakan jenjang perubahan pemahaman, di mana pada awal mulanya manusia sebagai makhluk totalitas tidak menyadari diri pribadi sebagai makhluk berpikir. Berawal dari epistomologi manusia dapat mengenali dirinya sendiri sebagai makhluk yang memiliki akal untuk berpikir dan batin untuk meyakini apa yang ada dalam diri manusia. Kecenderungan pada mazhab memperkuat ia dalam meyakini adanya sebab akibat sewalaupun praktik secara tekstual belum memenuhi syarat-syarat pada praktik sosial. Individual mengenai sifat-sifat batiniah dan lahiriah di sebabkan oleh kehendak manusia dan kehendak memberitahukan eksistensi manusia dibperoleh dari esensi (kausaprima).

Kecenderungan akal ideologi dan mazhab merupakan langkah dalam membenahi cara hidup manusia. sebab ajaran yang dianut oleh manusia dapat memberikan keseimbangan terhadap cara hidup manusia dalam kehidupan bermasyarakat ” plural “. Apabila manusia tidak cenderung pada keduanya, maka ia mengatakan dirinya sebagai Tuhan dan akan selalu mempertanyakan eksistensi ia sebagai subjek. Hal ini dikarenakan batin dan akal tidak relevan dalam merespon fenomena hidup. akal condong menafsirkan sesuatu yang ditangkap oleh Indra dengan model penafsiran freedom, sementara batin tidak dapat menerima apa yang ditafsirkan oleh akal sehingga manusia berada pada konflik ataupun perkara luar biasa.

Ironisnya lagi, jika doktrin ajaran terlibat dan menguasai seluruh organ tubuh manusia maka konflik yang tiada henti-hentinya dirasakan oleh personality, Sehingga radikalisasi hadir di tengah-tengah kehendak. Kehendak merupakan hasrat, dari hasrat tumbuh ketakjuban, ketakjuban melahirkan keragu-raguan dan keragu-raguan melahirkan ketidakpastian, sehingga menimbulkan pertanyaan sehingga pertanyaan tersebut merangsang manusia untuk berpikir tentang objek yang diterima oleh batin maupun akal manusia. Peristiwa alam semesta memberi jawaban sebenarnya, hanya saja dikarenakan manusia terlalu egois sehingga kebenaran alam didustakan oleh ego sentris. William James mengatakan, agama/ajaran ialah sesuatu yang diyakini manusia sebagai kendaraan menuju kepada Tuhan, ketetapan dan ketentuan dari Tuhan dan hal-hal wajib yang harus dilakukan oleh pengikut ajaran. Hal ini bersifat batiniah bukan lahiriyah semua dirasakan oleh batin manusia apabila Tuhan memberi kabar baik maupun buruk dan sanksi yang diterima oleh manusia.

Imanensi Tuhan diwariskan kepada makhluk ciptaan secara menyeluruh “Roh” karena itulah manusia memiliki sifat-sifat Tuhan, sifat Tuhan ditransformasikan pada jiwa dan raga menjadi cerminan dalam diri, untuk membuktikan secara rasional adalah dengan cara manusia diberikan akal untuk berpikir, merenung hasil ciptaan yang ditangkap oleh indera manusia. Batin yang merasakan sentuhan lahiriyah ia melalui organ tubuh manusia.

Intensitas imanensi sebagai kebebasan akali, sehingga membuka metode berpikir mereka dan pada akhirnya individu mengakui diri mereka sebagai Tuhan lalu lahirlah konsep ontologis, intuitif dan radikalisme. Sigmuend Freud teori katanya adalah masa depan dan fiksi merupakan kekuasaan akal yang bermain dalam imajinasi. Dalam pandangannya tidak ada campur tangan Tuhan, namun semua itu sebenarnya dari khayalan/ekspektasi manusia yang terlalu tinggi, sehingga membawa pada mimpi dan imajinasi mereka. Seorang yang beragama katanya ialah pasien rumah sakit jiwa pernyataan ini dikarenakan manusia terlalu mengedepankan fiksi daripada melihat fakta.

Kebenaran Metafisika dan Materialis

Sering kali kita manusia dihadapkan dengan beberapa pertanyaan atas kabar/berita yang disampaik oleh manusia lainya. Kita sering kali di pertanyakan oleh keadaan alam buktinya manusia selalu mendengar kabar setiap saat dimanapun ia berada, karena aktifitas terbesar manusia adalah komunikasi, maka manusia sudut kehidupan mengalami perubahan kehidupan yang tiada hentinya. Manusia kadang kala dalam kehidupan sosial sulit untuk mempertahankan apa yang menjadi keyakinan dan semua itu karna hasra manusia sebagai makhluh yang memiliki kehendak seperti manusia lainnya.

Dari beberapa penelitian para ilmuan timur seperti Al-Gazali, Harun Nasution, prof. I.R. Poedja wijatna dalam analisis filsafat dan berkaitan dengan hal yang tidak nampak. Sesuatu yang nampak di buktikan oleh instrumen manusia. Empiris

Antara Imajinasi dan Fakta Kehidupan Manusia Pada Alam Semesta

Objek Pengetahuan Serta Instrumennya

B. ILMU DAN PENGETAHUAN

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu melihat realitas, oleh karena itu manusia haru mampu sadar dalam menentukan pilihan. Apabila manusia tidak mampu berkesadaran maka dia tidak akan mampu memilih dan jika pilihan tidak di tentukan olennya maka pantas ia dikatakan sebagai binatang. Manusia perlu memulai dengan melangkah apabila ingin menjadikan diri sebagai manusia secara hakikatnya, dengan langkah pertama yang di mulai dan berawal dari kesadaran tersebut maka dirinya akan terus melangkah tanpa diri menghitung jejak-jejak setiap langkah. Manusia pun perlu melakukan tindakan sesuai hakikat kemasiaannya, Kemampuan dalam mengelola serta kreatifitas dalam menciptakan sesuatu adalah berawal dari kemampuan kesadaran. kewajiban ia sebagai makhluk berpikir, sebab pada hakikatnya manusia mempunyai raga serta jiwa yang berbeda dengan makhluk lainnta.

Manusia dan Binatang


manusia adalah sejenis binatang yang memiliki kesamaan dengan binatang lainnya. makhluk ciptaan Tuhan yang sama, memiliki kehidupan yang sama, wilayah hidup yang sama, dan mempunyai manfaat yang sama pula. Secara umum, binatang mempunyai kemampuan melihat dan mengenal dirinya serta dunia sekitarnya, dengan bekal yang diperoleh dari melihat dan mengenal inilah Binatang berusaha memperoleh sebagaimana binatang lainya. Manusia juga mempunyai banyak keinginan. Dengan bekal pengetahuan dan pengertiannya, manusia bersusah payah mewujudkan keinginannya. Manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya “manusia lebih tahu, mengerti, dan lebih tinggi tingkat keinginannya”. Yang membedakan manusia dan makhluk lain, ialah hanya pada cirinya. Ciri-ciri khusus inilah yang membedakan manusia dan binatang lain dan jadilah manusia lebih unggul daripada binatang lainnya.

Ciri-ciri tersebut menentukan sifat-sifat manusiawi manusia. Ciri-ciri ini merupakan sumber yang di sebut sebagai sikap, kecenderungan dan kebudayaan manusia. Poksi dan porsi bukan sebagai perbedaan mendasar, namun itu merupakan sesuatu yang di katakan sebagai objek dan subjek. Manusia condong akan Kencerungan dan kebergantungan terhada apa yang diyakini “spiritual” sementara binatang condong pada makan, minum, berkawin dan membuat sarang. Binatang condong pada sifat turunan, ia cenderung menikmati. Manusia lebih dari apa yang dimiliki oleh binatang. Binatang tidak mempelajari sejara hidupnya, binatang pula tidak mempelajari sejarah dunia, tidak memiliki prospek dimasa sekarang dan akan datang. Manusia kebalikan dari itu semua. Sebagai perbedaan yang mendasar? Manusia cenderung pada spiritual atau kebergantungan pada apa yang diyakini melalui batin manusia.

Tingkat pengetahuan dan keinginan binatang

Seekor binatang hanya mengetahui dunia melalui indra luarnya (seperti mencium bau, mendengar, melihat, merabah, dan merasakan sesuatu secara naluri). Ada beberapa perspektif pengetahuan binatang: pertama, “dangkal” Tingkah pengetahuan ini tidak detail dan akses internal. Kedua, bersifat persial dan khusus, tidak universal dan umum. Ketiga, bersifat ragional “terbatas pada wilayah”, lingkungan hidupnya dan tidak lebih dari itu. Keempat, pengetahuan pada saat sekarang dan tidak berkenaan dengan masa lalu dan mendatang, sebab binatang tidak mempelajari masa lalu dan tidak merancang masa depan.

Dari perspektif pengetahuannya, binatang tidak kuasa keluar dari kerangka lahiriahnya, kekhususannya, lingkungan hidupnya dan masa sekarangnya. Binatang tidak luput dari keempat penjara ini, sekiranya ada kesempatan keluar dari empat penjara tadi. Hal itu muncul secara naluriah dan tidak sadar, bukan karena kehendak dan pilihannya sendiri. Apabila binatang memburu sasaran yang berada diluar batas, misalnya bersangkutan dengan speies pada umumnya, bukan dengan satu individu atau bersangkutan dengan masa depan dan bukan masa kini, sebagaimana terlihat muncul pada binatang tertentu yang hidup berkelompok seperti lebah, itu terjadi secara tidak sadar, secara naluri, dan karena aturan langsung dari kekuatan yang telah menciptakannya, serta yang mengatur alam semesta.

Tingkat pengetahuan dan keinginan manusia serta parameter keunggulannya

Wewenang manusia di bidang pengetahuan, informasi, dan pandangannya, serta di bidang keinginan dan kecenderungan sangatlah luas dan tinggi. Pengetahuannya berangkat dari aspek eksternal menuju aspek realitas internal. Manusia dalam teori evolusi Darwin berawal dari kera, mungkin ada benarnya, sebab dari karakter kera dan manusia mempunyai kesamaan, tingkat keinginan yang tinggi serta tidak merasa berkecukupan seperti manusia. Dan ketika berjalan kera lebih dominan menggunakan kaki daripada tangannya, sewalaupun terkadang kala ia menggunakan tangan pada saat berjalan. Itulah sebabnya banyak manusia menginjak manusia dengan menggunakan tangan, karena ia meniru sifat hewan tersebut.

Tindaka ini menunjukan bahwa di era modern serta pra post moderenisme umat manusia mengangalami penindasa secara keseluruhan objek pengetahuan dan instrumen pengetahuan. Manusia yang selalu mengemis akan apa yang di hendakinya, meronta-ronta serta menangis tatkala ia berharap pada manusia yang memiliki segala hal di kehendaki manusia lain membuat diri yang tidak memiliki apa yang dihendaaki harus mengemis kehidupan pada manusia dan berharap akan di kasihani. Hasrat binatang yang kita ketahui condong pada hal kepuasan dalam semua hal semata-mata tanpa ada sifat belas kasihan dengan spesies yang lain dan keinginan yang tidak ada henti-hentinya pun di tunjukan oleh mayoritas manusia pada umumnya, seolah-olah diri manusia tidak menyadari semuanya hanya sementara. Harta, jabatan semuanya aka kembali menjadi sampah semata-mata dalam konsep rasio dan realitas, semua sudah terjawab oleh eksistensi dan keragu-raguan pada instrumen manusia. Memang manusia mengakui semua itu, hanya saja karena ketidak mampuan secara batiniah dan akali sehingga ia lebih memilih harta demi mempertahankan moral pada tahtanya (jabatan).

Kesadaran untuk memenuhi serta tindakan yang dilakukan binatang dan manusua cukup menyadarkan manusia dalam memberi porsen sebenarnya, tapi karena pribadi yang selalu merasa terpenuhi segala sesuatu dikehendaki sehingga menutup kebenaran yang nampak pada instrumen manusia dalam memberi jawaban dan arti kehidupan secara kacamatanya. Peristiwa dalam sejarah di gelapkan oleh kedudukan manusia, kedudukan yang selalu ia banggakan membuat mata batinnya tertutup sehingga ia tak mampu melihat kebenaran dalam diri manusia lain.

Kedudukan membuat manusia salah dalam memberi perbedaan serta kesamaan dan bahkan ia menilai kekurangan yang dimiliki oleh manusia lain adalah problemnya sendiri bukan beban yang harus di pikul olehnya dan inilah bukti yang dikatakan oleh Mohammed Arqoun bahwa jabatan, kedudukan, kekuasaan serta kekayaan adalah musuh bukan kawan tapi lawan, bukan kebahagiaan namun itu merupakan neraka dan pada akhirnya mereka yang tidak memiliki hal-hal di atas tidak akan mendapatkan cahaya hidup di kemudian hari.

Secara kodratnya manusia memang layaknya dikatakan sebagai makhluk berpikir. Konsep berpikir yang tertanam padanya membuat batin manusia merosot dan tergesah-gesah pada peristiwa yang dialami. Umumnya, manusia selalu gelisah akan hal yang terjadi di alam semesta, mata yang selalu tajam dalam memandang peristiwa-peristiwa, akal kadang perih serta kesakitan dalam menafsirkan kejadian yang ditangkap oleh indra, dan batin/ roh tertusuk demi mempertahankan keyakinan, namun batin menikmati semua itu sewalaupun hal tersebut berulang – ulang menyakiti. Sebelumnya kita ketahui bahwa Tuhan telah memberikan anugerah, dengan anugerah itu manusia harus mempelajari dua buku sebagai alat dalam menunjang keberlangsungan hidup manusia berikutnya. Dua kitab yang perlu manusia pelajaru (1) kitab suci, merupakan buku dalam pemenuhan kebutuhan jiwa (keyakinan) dengan tujuan untuk menyadarkan manusia sebagai pengikut ajaran serta yakin akan kehidupan seterusnya pada alam yang berbeda. Sekian banyaknya ajaran yang di anut oleh masing-masing bukan berarti hanya satu yang benar, namun setiap individu merasa semua sama di mata Tuhannya semua hal tersebut sesuai keyakinan masing-masing terhadap apa yang di yakini manusia. (2) Alam semesta, alam merupakan buku kedua untuk manusia, alam pun adalah objek kajian yang memberi manusia tugas agar berpikir. Berpikir untuk memproduksi, mengelola, mengembangkan dan bahkan menciptakan sesuatu dengan metode nalar sesui IU masing-masing. Karena isi alam yang begitu kaya akan segala suku, bahasa, budaya, adat inilah alasan negeriku di soroti oleh negara setiap benua, ini pula alasan kenapa indonesia menjadi negara budidaya. Oleh karena kekayaan akan isi alam inilah masyarakat indonesia lebih kepada memproduksi daripada mengola dan bahkan pendidikan pun pada pelosok negeri tidak di utamakan karena mereka lebih kepada bertani sesuai tradisi.

Fenomena kehidupan yang setiap saat menghapiri dan menghantui instrumen manusia tertentu yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Kehadiran wacana politik sedikit demi sedikit menggugurkan tradisi bercocok tanam secara primitif dengan kesungguhan hati para tani dan politik mengajarkan praktik sesuai wacana “Hegemonik” wacana ini di anggap kebutuhan pokok. Tindakan oportunis dibungkus rapi dengan berlandaskan keadilan pada sila-sila pancasila, tapi ternyata semua hanyalah dongen para pengharap keadilan. Kebiadaban terus menerus meraja lelah setiap pelosok negeriku, tanpa satupun petinggi andil dalam merasakan yang di alami sang pengharap kesejahteraan.

C. PERSPEKTIF FILSAFAT DALAM ILMU PENGETAHUAN


Kebijaksanaan adalah cinta manusia pada ciptaan Tuhan yang maha esa. Terutama cintanya pada metodos “ilmu pengetahuan” orang tahu akan dunia dan alam mengelilinginya, iya tahu akan manusia lain akan hidup bersama dengan dia, ia tahu akan dirinya, Ia pun tahu akan cenderung cenderung yang ada padanya. kebanyakan pengetahuan ini tercapai olehnya dari pengalamannya persentuhan dengan indra manusia, itulah yang dalam sistem pembentukan pengetahuan yang berawal dari indera manusia sehingga tersusun sesuatu yang dipikirkan oleh instrumen pengetahuan. Hal yang dipikirkan olehnya maupun empiris manusia, didapatkan oleh orang lain pula sehingga tesis-tesis ini dipadukan oleh individu dan dijadikan sebagai ilmu pengetahuan.

Pengetahuan tidak amat sadar, pun merupakan pengetahuan tapi berlaku umum yang dipergunakan untuk perlakuan sehari-hari dan itulah yang dinamai pengetahuan biasa atau dengan singkat pengetahuan. Kekhawatiran akan pengetahuan yang dimiliki membuat manusia gelisah karena orang yang mempunyai pengetahuan dia tahu akan dirinya dan alam semesta.

Pengetahuan yang sadar menurut kebenaran yang bermetodos dan bersistem disebut ilmu. Istilah ilmu karena kata itu baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah sudah menunjukkan pengetahuan yang tinggi. Manusia selalu waspada supaya pengetahuannya sesuai dengan objek serta hasil-hasil yang dikumpulkan dengan susunan ketentuan sehingga ini merupakan keseluruhan yang tersusun dengan teratur inilah yang disebut sistem.

Pengetahuan yang mempunyai sistem, kalau dibandingkan dengan pengetahuan akan ilmu pengetahuan adalah biji. Biji tidak lagi di pendam melainkan sudah muncul “sadar” perkembangan dengan teratur “metodos” serta terpelihara baik bersistem maka adalah ilmu. Ilmu itu pun tidak hanya tercapai dengan indera saja melainkan harus diolah, bukan juga dari seorang diri melainkan orang bekerja sama untuk mencapai ilmu.

Macam-macam Ilmu

Kita tahu ada bermacam-macam ilmu. Ada ilmu hayat dan ada pula ilmu jiwa, ada ilmu bumi, ilmu bumi Falaq dan sebagainya. Apakah ada yang membeda-bedakan suatu dari ilmu lainnya apakah yang menentukan macam ilmu itu..? Telah dikatakan, bahwa ilmu mengejar kebenaran. Artinya coba-coba mencapaipersesuaian antara pengetahuan dengan objek nya. Ilmu adalah objek yang menjadi lapangan penyelidikan. Misalnya ilmu jiwa dan ilmu hayat. Ilmu hayat menyelidiki hidup, pun hidup manusia. Jadi ilmu hayat menyelidiki manusia juga dari sudut tertentu yaitu sudut hidupnya yang sesuai dengan hidupnya lain-lain, boleh dikatakan hidup luar. Ilmu jiwa pun memandang manusia itu pula dari sudut hidupnya juga, akan tetapi dari hidupnya yang lebih mendalam. Dari yang sadar sampai kepada yang tidak sadar, diselidikinya lah pendorong tindakan tindakan manusia.

ilmu tidak hanya pada seputaran hidup dan pada sentuhan indra manusia saja namun ilmu pula ada di balik itu semua. Ada dua objek dalam ilmu :

1. Objek material

Objek material merupakan bahan penyelidikan yang dinamai “lapangan”. objek ini berbicara tentang badan daripada objek. seperti ilmu alam, bumi dan petagonis wilayah. Keumuman/keluasan objek membuat subjek menganggap itu adalah ablatif sehingga memberi karismatik untuk memahami secara spesifik. Manusia yang selalu ingin mengerti di setiap sudut ilmu dengan ketakjuban yang tumbuh dari batiniah atas apa yang ditangkap oleh indera manusia. Ilmu terkait dengan alam merupakan ilmu dari alam begitu pula dengan adanya ilmu lainnya. Ilmu akan kita sebut ilmu apabila hak tersebut sesuai dengan lapangan penyelidikan ilmu dan ilmu harus dibuktikan dengan empiris manusia. Apabila penyelidikan mempertanyakan alam itu dibuat oleh siapa sih dan dia yang membuat dia ada dimana susunan dan bagaimana penyusunannya. Ini bukan objek ilmu, memang ilmu menyelidiki sedalam-dalam tapi ia punya batasan dan batasannya adalah pengalaman apa yang di luar pengalaman itu bukan lagi objeknya.

2. Objek formal

PERSPEKTIF MARXISME DAN NONMARXISME

Secara spiritual dan intelektual, manususiawi mempunyai kendendak yang dikehendaki. Kehendak untuk memperoleh, kehendak dalam meyakini adanya sesuatu isme-isme objek-objek, serta kehendak berupa hasrat terntentu.

Perspektif marxisme ini merupakan langkah demi menggapai apa yang diinginkan oleh nafsu manusia. Power dijadikan sebagai intensitas dalam menggapai tindakan feodal dan tindakan feodal di selimuti dengan kapabelitas afeksi. Yang Lebih parah lagi konasi di bungkus rapi oleh kalima (teks) leteratur yang bermakna suci (pure).

Sementara pada nommarxisme ialah upayah dalam membongkar kesadaran manusia untuk membangun serta mendorong semangat demi tercapai mimpi dan harapan manusi pada cita serta khayalannya di kehidupan kemudian setelah ia berada pada kedudukan pertama dimana ia memulai mengenal ilmu pengetahuan. Pengetahuan bukan sebagai tolak ukur untuk menggapai harapan, cita-cita serta impiannya agar menjadi orang yang dapat dihargai sebagai makhluk totalitas, pengetahuan hanyalah sebagai dasar manusia dalam memenuhi kehendak batiniah serta lahiriah manusia. Segala sesuatu yang di anggap sebagai komponen serta instrumen pengetahuan adalah alat sebagai penyambung serta pembantu dalam merealisasikan apa yang di kehendaki oleh moral.

Kehidupan masyarakat dalam tatanan sosial mengkhawatirkan akan berlangsung nya kehidupan di kemudian hari. Kekhawatiran ini bangkit dari kesadaran pribumi dalam negeri dan induvidu cukup memprihatinkan kedudukan hukum yang produksi oleh DPR-RI. Rancangan Undang-Undang ” (RUU), pembuatan naskah/ konstitusi” harus mengacu pada undang-undang pasal 22 UUD. Pembentukan peraturan pada salah satu negara untuk menjaga ketertiban serta mengatur tata kehidupan masyarakat dalam negeri. Kehadiran pancasila dianggap sebagai ideologi negara tidak lagi di pelajari, melainkan idelogi tersebut di pampang dengan bingkai pada tembok sebagai lambang negara, Sementara pada sila-sila pancasila mempunyai cita-cita dari sila pertama sampai dengan sila ke lima.

Nilai pancasila pada lima sila pancasila :

1. Ketuhanan yang maha esa, ketuhanan yang maha esa cita-cita pertama dengan bertujuan untuk memberi ruang induvidu dalam meyakini Tuhan sesuai dengan keyakinan masing-masing dan hal ini tertera pada pasal 29 UUD 1945.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradap, adil berarti bersikap bijaksana terhadap segala perbedaan, baik itu adalah budaya, tradisi, kultur dan adat. Aturan-aturan tertentu yang di bentuk oleh beberapa daerah ataupun wilayah merupakan hukum adat setempat dengan adat serta budaya dan suku daerah lainnya.

3. Persatuan indonesia, dengan beberapa perbedaan pancasila berusaha dan berupaya menyatukan semua perbedaan dalam negeri. Perbedaan yang ada merupakan salah satu keunikan. Sejauh ini pancasila terbukti berhasil mempersatukan perbedaan-perbedaan, sewalaupun tahap demi tahap yang di benahi sesuai dengan cita-cita bangsa sejak proklamasi sampai dengan abad 21 ini.

4. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmah

Kebimbangan dan Kebingungan Terhadap Ketidakpastian Dalam Kebenaran.

DEMOKRASI DAN HEGEMONIK

Demokrasi

Pada era pra kemerdekaan memang kita akui secara potensi diri masing-masing. Potensi secara empiris, persepsi, dan realitas manusia, spesifiknya adalah negarawan dalam negeri “Indoneaia”. Berawal dari kehendak masyarakat serta hasrat pemuda regerasi bangsa memberi spirit dan keyakinan kepada semua masyarakat indonesia pada umumnya. Pemuda yakin bahwa akan hadir kemerdekaan, kesejahteraan, kedamaian, toleran dalam menuju masyarakat madani. Mimpi yang besar hadir dalam mimpi mereka dan era pasca kemerdekaan semua yang di mimpikan oleh mereka terjawab melalui pengorbanan para pahlawan-pahlawan indonesia. Perjuangan para pahlawan pun dapat di akui oleh negara-negara jajahan dan pada tahun 1945 tepatnya di jakarta Ir. Soekarno melakukan proklamasi dengan meresmikan kemerdekaan negara indonesia. Namun dengan resminya indonesia merdekan justru menghadirkan ribuan persoalan yang datang dari setiap sudut pelosok negeri, terutama mengenai ajaran masing-masing negara, sehingga penyuaunan sistem kepemerintahan secara berturut-turut terutama mengenai kinstitusi dan sampai sekarang pun negara indonesia masih menganut sistem hukum Belanda BW.

Demokrasi Bilateral dan Nonbilateral

Bilateral adalah hubungan antara negara dengan negara, negara dengan masyarakat dan masyarakat dengan organisasi. Hubungan negara terhadap masyarakat menjadikan negara memiliki power”kekuatan konstitusi”, kekuatan dalam mengatur bagaimana tata kehidupan serta strategis tertentu yang dimiliki oleh penguasa kehormatan pada masyarakat dalam suatu negara. Antara negara dengan masyarakat layaknya sejarah dengan politi, yang artinya adalah saling mempunyai ketergantungan untuk melengkapi pemenuhan kebutuhan objek subjek dalam negara dan sistem pelaksanaan demokrasi.

Sejarah politik merupakan konsep ilmu pengetahuan yang dinamis dan mempunyai peran yang strategis, kenap? Antaran sejarah dengan politik memiliki langkah serta tindakan fenomenal. Peran induvidu atau kelompok “organisasi masyarakat” untuk meraih kedudukan seperti apa yang di hendaki manusia. Entah itu pada tatanan kota maupun rakyat kecil pasti memiliki kelompok secara terstruktu sehingga dapat di katakan sebagai organisasi, sewalaupun itu masih dalam tatanan masyarakat biasa dalam negeri. Berdasarkan keunggulan ekonomis, potensi, serta keunggulan lainnya, induvidu mampu berinteraksi untuk memenuhi apa yang inginka pada stratesis politik. Hal yang dilakukan tergantung dari keunggulan ekonomis dan kekuasaan serta pendekatan tertentu kepada masyarakat. Apapun yang nampak hari ini adalah peristiwa pada massa lampau, oleh karenanya dapat di katakan bahwa sejarah tanpa politik tidak akan berubah dan sebaliknya politik tanpa sejarah tidak ada akarnya. Sejarah, politik merupakan satuan yang saling membutuhkan demi tercapai misi masing- masing. Sejarah sebagai objek pengetahuan, politik sebagai negara atau kota atau wadah, kediaman, serta lahan bagi penghuni. Politik pada dasarnya ada karena adanya masyarakat sosial.

Demokrasi pun adalah bagian dari politik, salah satu bukti politik berperan dengan adanya kehormatan, jabatan, dan pengikut/ generasi yang mengikuti arah kehidupan sebelumnya. Politik berasaskan pendekata (umummnya), atas kekeluargaan dalam suatu organisasi kader akan mendapat ruang yang sama apabila mentaati, menjujung tinggi nilai konstitusi.

Plato dalam tulisannya negara dan demokrasi spesifik pada negara kota abad 19 yunani mengenai diksi, narasi dan wacana negara kota sparta yang menetapkan sistem patriarkhi oleh negara, pada massa itu sistemnya sungguh memberikan kekhawatiran kepada generasi selanjutnya. Jika seorang ibu melahirkan anak yang cacat maka akan di bunuh oleh pemerinta, sebab mereka percaya bahwa generasi tersebut tidak akan bermanfaat bagi bangsa dab negara mereka. Secara realitas memang benar jika kita kembali pada sejarah kebangsaan, karena di massa itu semua negara masih membutuhkan sosok filsuf untuk membenahi tata kehidupan sosial dan konstitusi negara.

Arti Demokrasi

Demokrasi dan Tujuannya

Kedudukan Demokrasi Indonesia

Demokrasi Dalam Perspetif pangan, budaya dan Kekuasaan

Budaya merupakan salah satu kebiasaan yang patuh dilalksanakan oleh masyarakat setempat. Dengan berbagai suku, bangsa, ras, tradisi adat, tidak menggugurkan pancasila dalam mempersatukan perbedaan, Justru perbedaan ini memberi serta mengajarkan arti dari suatu ciri khas negara indonesia. Perbedaan yang tidak mampu terpisahkan oleh persepsi-persepsi ideologi dunia terhadap negara swadaya ini.

Pada perspektif pangan dan kebudayaan bahwa, keberhasilan suatu bangsa dalam memproduksi dan nengelola tergantung dari bagaimana pemimpinya. Pemimpin harus memiliki seni dalam mempimpin, sebab apabila sistem sudah tertata rapi maka SDA mampu di kelola oleh masyarakat. Seni adalah kunci agar keberhasilan dapat diraih secara totalitas. Kesuksesan tergantung dari bagaimana pemimpin negara, terutama indonesia yang memiliki sistem trias politikal.

Sistem pendidikan merupakan penunjang dalam membongkar pengetahuan yang tersebunyi pada masing-masing induvidu. Pendidikan pula adalah kunci untuk membuka meinset berfikir manusia. Hal ini menunjang akan keberhasilan serta kesuksesan mengelola bahkan memproduksi SDA. Masyarakat tidak akan berani memproduksi hal yang jarang dilakukan oleh mayoritas, sebab berdasarkan atas empiris. Memang pendidikan sudah mempersiapkan seperti yang di sampaikan di atas, namun pendidikan bukan semata-mata penunjang dalam maraih keberhasilan, keberhasilan di awalai dari empris manusia dan inilah realitas dalam negeriku indonesia.

Seni dalam memimpin adalah salah satu penunjang agar dapat menentukan peningkatan mutu pendidikan. Ruang Pendidikan merupakan metode/cara menampakan ide-ide dan gagasan yang dimiliki oleh induvidu lain, dengan mutu pendidikan generasi free dalam mengembangkan potensi masing-masing. Semua ini tergantung bagaimana pimpinan negara menetapkan sistem pendidikan. Keberhasilan suatu bangsa tergantung dari pemimpinnya. Kemudia tergantung pula daripada pejabat (penguasa) yang mewakili rakyat. Penguasa dapat di artikan sebagai kemampuan seseora atau sekelompok orang yang mempunyai tujuan dalam mempengaruhi orang atau sekelompok orang. Kekuasaan (pemimpi dengan rakyat) kekuasaan untuk pengusaha mengenai ekonomi dengan buruh dan toko agama bagi pengikut ajaran.

Definisi di atas menggambarkan kekuasaan bagi politik yang mempunyai seni dalam mempengaruhi orang lain untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan seseorang ataupun kelompok dalam rana politik. Politik adalah kemampuan untuk mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan piblik, terutama yang dilakukan oleh penguasa demi tercapai tujuannya.

Dalam perspektif Demokrasi, kekuasaan harus di cari dan didapatka secara konstitusional, yang berarti melaui cara-cara yang di benarkan oleh konstitusi.

Perbandingan Antara Demokrasi dari abad ke abad

Apakag Demokrasi Membawa Negara Pada Titik Kedaulatan ? Atauka Menindas menggunakkan wacana Hegemonik

Tranpransi Kebiadaban Dalam Negeri Oleh Rezim

Konstitusi Tunduk dan Hukum Adalah Kekuatan

Hukum Dalam Negeriku Indonesia

Ruang Hukum dan Kedudukanya

Hukum Adalah Alat Para Penguasa Negeri

Langkah Membangun Negara Hukum Bermartabat

Kemerdekaan Sesungguhnya